MENGENAL KARAKTERISTIK ANGIN PUTING BELIUNG DAN POTENSINYA DI YOGYAKARTA

Meningkatnya frekuensi kejadian angin puting beliung yang berpotensi merusak di berbagai daerah di Indonesia akhir-akhir ini perlu diwaspadai oleh semua pihak. Tentu kita masih ingat kejadian yang menimpa kota Pelajar tanggal 18 Februari 2007 silam. Dimana pada sore hari kota Yogayakarta dikejutkan dengan adanya kejadian Angin Puting Beliung yang datang secara tiba – tiba dan hanya sebentar kejadianya (5 – 10 menit). Namun menimbulkan kerusakan yang cukup parah, tercatat 1066 rumah rusak, pohon tumbang, tiang dan papan reklame roboh, dan banyak warga yang mengalami luka – luka. Tetapi peristiwa tanggal 18 Februari 2007 itu bukan satu – satunya kejadian di daerah Yogyakarta. Di daerah lain pun banyak yang mengalaminya, dan potensi akan terjadinya angin Puting Beliung masih ada. Sebagai langkah antisipasi dan mitigasi, masyarakat perlu mengetahui apa itu angin Puting Beliung, faktor penyebab, gejala dan di mana angin puting beliung pernah terjadi.

Mengapa disebut angin puting beliung? Secara fisik dapat diartikan Puting adalah bagian pangkal pisau yang runcing dan dibenamkan ke dalam tangkai hulu, sedangkan beliung adalah perkakas tukang kayu, yang rupanya seperti kapak dengan mata melintang (tidak searah dengan tangkainya). Logikanya, puting beliung adalah bagian pangkal beliung yang runcing yang dibenamkan ke dalam tangkainya. Kita juga bisa berpikir bahwa angin puting beliung adalah sejenis angin yang bentuknya mirip puting beliung. Dan memang demikian, angin jenis ini memiliki bentuk yang tajam di bagian bawahnya, mirip pangkal pisau yang tajam. Anehnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan pengertian puting beliung sebagai udara yang bergerak dengan cepat dan bertekanan tinggi, sedangkan angin puting beliung adalah gerakan udara (angin) yang berputar, atau angin puyuh.

Jadi bisa diambil kesimpulan Angin Puting Beliung, yaitu angin kencang yang datang secara tiba – tiba dan bertekanan tinggi, mempunyai pusat, bergerak melingkar seperti spiral hingga menyentuh permukaan bumi dan hilang dalam waktu singkat (3 – 5 menit) dan dalam radius 5 – 10 km. Kecepatan angin berkisar antara 30 – 40 knots. Tetapi dalam skala Fujita kecepatan angin puting beliung dibagi dua skala, yaitu:
* Skala F0 (Frekuensi nol) hingga F4 : Kecepatan antara 30-40 knot, dengan masa waktu maksimal 5 menit dan luas daerah terkena imbas 5-10 km. Akibatnya, pohon dan papan reklame patah, bergeser, hingga tumbang; rumah dengan pondasi kurang kokoh bisa rusak bahkan ambruk dan * Skala F5 : Kecepatan 261 – 318 meter/volt, masa waktu maksimal 5 menit, luas yang terkena imbas 5-10 km. Akibatnya, pohon dan papan reklame tercabut dari tanah, rumah hancur, dan seluruh yang ada di permukaan tanah bisa terangkat hingga 100 meter.

Angin ini berasal dari awan Cumulusnimbus (Cb) yaitu awan yang bergumpal berwarna abu – abu gelap dan menjulang tinggi. Namun, tidak semua awan Cumulusnimbus menimbulkan puting beliung. Puting beliung dapat terjadi dimana saja, di darat maupun di laut dan jika terjadi di laut durasinya lebih lama daripada di darat. Angin ini lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, terkadang pada malam hari dan lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba).  Luas daerah yang terkena dampaknya sekitar 5 – 10 km, karena itu bersifat sangat lokal.

Potensi kejadian angin Puting Beliung biasa terjadi pada musim peralihan, baik peralihan musim hujan ke kemarau ataupun dari musim kemarau ke penghujan Seringnya kejadian tersebut disertai hujan, karena terbentuknya daerah – daerah konvergen atau tempat berkumpulnya massa udara yang membentuk awan konvektif (awan yang berpotensi hujan).
Awan konvektif selanjutnya menjadi awan kumulonimbus yang menyebabkan hujan turun
disertai petir. Selain itu, awan Cumulusnimbus yang tiba-tiba gelap, menjadi pertanda munculnya angin puting beliung. Khusus untuk di daerah Yogyakarta, potensi akan terjadinya Angin Puting Beliung sulit untuk diprediksi kemunculannya, tetapi patut di tambahkan kejadian Angin Puting Beliung di suatu daerah tidak akan terjadi pada waktu dan lokasi yang sama (tidak ada Angin Puting Beliung susulan), tetapi pada suatu daerah tertentu dapat terjadi angin Puting beliung pada waktu yang berbeda (misal, Berbah pada 2007 pada musim peralihan kemarau ke hujan terjadi, bisa terjadi lagi pada musim peralihan hujan ke kemarau pada tahun 2008).

Angin semacam itu bertiup karena pemanasan yang tidak merata, dan terkait konsentrasi penguapan serta adanya perbedaan cuaca yang ekstrem pada musim peralihan (terjadi penguapan yang cukup tinggi, namun di sisi lain curah hujan cukup rendah). Proses terjadinya angin puting beliung, biasanya terjadi pada musim pancaroba pada siang hari suhu udara panas, pengap, dan awan hitam mengumpul, akibat radiasi matahari di siang hari tumbuh awan secara vertikal, selanjutnya di dalam awan tersebut terjadi pergolakan arus udara naik dan turun dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arus udara yang turun dengan kecepatan yang tinggi menghembus ke permukaan bumi secara tiba-tiba dan berjalan secara acak.

Atau secara teori, Angin puting beliung terjadi akibat adanya mekanisme tekanan massa air hujan yang cukup besar yang turun dari awan hujan yang rendah Comulusnimbus sewaktu hujan akan turun. Gerakan massa yang besar tersebut mendorong lapisan udara di bawahnya sehingga terjadi perubahan tekanan udara yang menyebabkan angin bergerak ke bawah. Ketika mencapai permukaan bumi ia akan bergerak ke arah tegak lurus permukaan bumi, tetapi angin kuat yang bergerak dari arah sampingnya menyebabkan terbentuknya arus udara turbulen berputar-putar semacam lesus. Massa udara di dalam puting beliung ini berputar-putar dengan cepat, seakan-akan seperti di dalam sebuah siklon. Bergabungnya beberapa vektor angin dari berbagai arah menjadikan resultan kekuatan angin menjadi semakin kuat dan akibatnya akan mendorong, menarik bahkan menerbangkan benda-benda sekitarnya. Jika kecepatan anginnya sangat tinggi dapat menyebabkan kerusakan perumahan dan bangunan yang cukup parah.

Erat kaitannya dengan awan jenis Cumulusnimbus (CB) yang terbentuk oleh uap air hasil penguapan intensif. Dalam waktu tertentu, uap air ini akan terangkut ke bawah awan cumulus yang merupakan embrio awan Cumulusnimbus. Siklus awan Cumulusnimbus dalam proses pembentukannya akan mengalami tiga fase, yaitu fase cumulus, matang dan punah. Pada fase awan Cumulus, awan Cumulus biasa tumbuh dari awan-awan Stratus yang kemudian berkembang menjadi awan Cumulus, namun lebih aktif dengan bentuk yang khas seperti bunga kol dan sudah mulai terjadi proses pergerakan arus udara naik (updraft) dari dasar awan menuju puncak awan. Temperatur di dalamnya lebih hangat dibandingkan dengan suhu udara di sekitarnya.

Pada fase matang (mature stage), fisik awan berubah menjadi tinggi menjulang. Pada fase ini arus listrik di dalam awan mulai terbentuk ditandai dengan adanya fenomena kilat dan petir yang bersahut-sahutan. Pada badan awan dorongan arus udara naik makin kencang, sedangkan di bawah bagian depan arah terjadi pergerakan arus udara turun.Tiupan angin turun yang menyembur ke bawah sangat kencang. Ini terjadi dengan tiba-tiba bergabung gulungan angin mendatar dan gulungan angin vertikal. Jika arus angin bertemu dengan angin dari awan maka akan terbentuk pusaran angin yang sangat kuat dan lazim dikenal sebagai angin puting beliung yang memiliki kecepatan rata-rata 60-90 km/ jam disertai dengan semburan hujan sangat deras (water spout).

Masa akhir dari awan Cumulusnimbus adalah fase punah, dimana arus udara turun di seluruh titik awan, yang sebelumnya berupa awan berwarna gelap, kini berubah menjadi awan kelabu disertai dengan intensitas hujan yang semakin menurun.

Memprediksi kehadiran angin puting beliung masih sulit dilakukan, karena mekanisme dan dinamika atmosfir pembentukannya bersifat sangat lokal, sangat cepat dan berlangsung singkat. Pelepasan energi dari awan pada masa matang yang disertai oleh semburan angin di bawah awan inilah yang harus diwaspadai karena memiliki potensi terjadinya angin puting beliung yang merusak.Semburan angin kencang puting beliung biasanya berlangsung sekitar 5 hingga 15 menit, karena awan-awan Cumulusnimbus di daratan tumbuh secara sendiri-sendiri. Namun karena kekuatan angin yang cukup kencang dan berputar, maka angin akan bersifat destruktif dan sangat merusak benda-benda yang dilaluinya.

Secara umum, gejala awal kehadiran puting beliung dapat dikenal. Sehingga perlu diwaspadai oleh masyarakat lewat tanda – tanda alam sebagai berikut satu atau dua hari sebelum kejadian pada malam hari hingga pagi hari udara panas atau pengap, pada pagi hari terlihat pertumbuhan awan yang berlapis – lapis ke atas (awan Cumulusnimbus) atau bergulung-gulung menjulang tinggi berbentuk seperti bunga kol dan puncaknya putih, Tinggi dasar awan tersebut berkisar 400-600 meter di atas permukaan laut dan biasanya proses pembentukan awan Cumulusnimbus mulai pukul 10.00 WIB hingga 14.00 WIB dan diikuti dengan perubahan warna pada awan tersebut dari putih menjadi hitam pekat, dahan atau ranting pada pepohonan disekitar daerah adanya awan tersebut bergoyang cepat dan udara terasa dingin sekali (seperti udara di dalam kulkas), kadang disertai hujan gerimis atau deras secara tiba – tiba serta petir/lightning.

apb1

Agar dampak dari terjangan angin puting beliung bisa dikurangi perlu di ambil langkah – langkah antisipatif, antara lain menebang dahan – dahan dari pohon yang rimbun dan tinggi untuk mengurangi beban berat pada pohon tersebut, memperkuat atap rumah yang sudah rapuh, cepat berlindung atau menjauh dari tempat kejadian (berlindung di dalam rumah yang kokoh/beton), bila mengetahui adanya indikasi akan terjadi puting beliung, mengatur penempatan papan reklame atau baliho di tepi jalan, kabel – kabel jaringan listrik atau telepon di rapikan, ketika sedang mengendarai kendaraan, usahakan berhenti sejenak sambil menunggu angin reda dan hujan turun tetapi jangan berteduh di bawah pohon rindang dan tinggi/papan reklame/baliho/rumah yang rapuh, kenali bulan – bulan musim pancaroba di daerah kita, program penghijauan kembali daerah yang kurang vegetasinya untuk mengurangi perbedaan suhu mencolok.

Secara meteorologis angin puting beliung dapat terjadi dimana saja, namun dari statistik kejadian angin puting beliung yang merusak tersebut di atas, tampaknya jenis angin ini lebih banyak terjadi di dataran rendah hingga menengah. Untuk mengetahui daerah rawan kejadian angin puting beliung, tampaknya perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Namun hingga sampai saat ini di kalangan ahli meteorologi mengakui masih sulit untuk memprakirakan secara tepat dimana terjadinya angin puting beliung. Dengan melakukan pengamatan menggunakan bantuan citra satelit cuaca atau radar cuaca, lokasi dimana sedang terjadi pembentukan awan Cumulusnimbus yang sangat intensif sangat mudah untuk diketahui. Daerah-daerah ini memiliki potensi terjadi puting beliung.

Catatan beberapa daerah Yogyakarta yang pernah dilanda Angin Puting Beliung antara lain tanggal 18 Februari 2007 hujan deras disertai angin puting beliung menerpa beberapa tempat di kodya Yogyakarta, yaitu Kecamatan Gondokusuman, Danurejan dan Pakualaman pada hari minggu tepat pukul 17.00 WIB.10 Desember 2007, hujan deras kurang lebih 15 menit disertai angin puting beliung menerjang Dusun Kamdanen-Sariharjo- Ngaglik- Sleman sekitar pukul 14.15 WIB. 27 Maret 2008, angin puting beliung mengamuk di dusun Demangan-Pleret-Bantul dan sekitarnya hari kamis pukul 16.00 WIB dan diikuti dua jam kemudian di dusun Grogol, Padukuhan, Polangan-Sumberharjo-Prambanan-Sleman. 28 Maret 2008 menyerang desa Nogotirto-Gamping dan sekitarnya. Serta di tahun 2004 – 2006 Angin Puting Beliung pernah terjadi di daerah lereng seperti Piyungan (Bantul), Gedangsari (Gunung Kidul), serta Ngaglik (Sleman).

Patut diingat bahwa angin puting beliung terjadi sangat singkat dan karena kekuatan anginnya yang cukup kencang dan berputar maka angin akan bersifat destruktif dan sangat merusak benda-benda yang dilaluinya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: