HUJAN

Hujan merupakan satu bentuk presipitasi atau turunan cairan dari angkasa seperti salju, hujan es, embun dank abut. Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi, sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering (sejenis presipitasi yang dikenali sebagai Virga). Hujan memainkan peranan penting dalam siklus Hydrologik yaitu kelembapan dari laut menguap bertukar menjadi awan, terkumpul menjadi awan lalu turun kembali ke bumi dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semua.
Bentuk air hujan sebenarnya kecil dan hampir bulat. Air hujan yang besar menjadi semakin leper, seperti roti Hamburger. Air hujan yang lebih besar berbentuk payung terjun. Air hujan yang besar jatuh lebih cepat berbanding air hujan yang lebih kecil. Diameter butiran hujan biasanya berukuran 0.08 – 6mm. Dan hujan memiliki kadar asam pH 6, bila hujan dibawah pH 5.6 dianggap hujan asam. Diameter lebih dari 0.5mm akan sampai ke permukaan bumi dan disebut hujan, ukuran butiran 0.2 – 0.5mm juga akan sampai ke permukaan bumi dan disebut gerimis (Drizlle) dan bila kurang dari 0.2mm maka akan menguap dalam perjalannya menuju ke bumi.
Jumlah hujan diukur dengan menggunakan penakar hujan dan satuannya millimeter. 1mm air hujan adalah tinggi lapisan air hujan yang jatuh dan ditampung oleh permukaan bumi dan tidak menguap atau meresap kedalam tanah. Andaikata suatu lapisan air tingginya 1mm jatuh pada tempat seluas 1m² mempunyai volume 1 liter atau 0.1 x 100 x 100cm = 1000cm³ = 10dm³ = 1 liter. Oleh karena itu lapisan air yang tebalnya 1mm dengan luas 1m² akan mempunyai volume sebanyak 1 liter.
Banyak orang menganggap bahwa bau yang dicium pada saat hujan sepertinya harum atau wangi baunya. Sumber dari bau tersebut adalah Petrichor, minyak yang diproduksi oleh tumbuhan yang kemudian diserap oleh bebatuan dan tanah dan kemudian dilepas ke udara pada saat hujan.
JENIS JENIS HUJAN
Berdasarkan terjadinya, hujan dibedakan menjadi :
1. Hujan Siklonal
Hujan yang terjadi karena udara panas yang naik disertai dengan angin berputar.
2. Hujan Zenithal
Hujan yang sering terjadi didaerah sekitar Equator, akibat pertemuan Angin Pasat Timur Laut (Angin dari Asia atau Monsoon Asia) dengan Angin Pasat Tenggara (Angin dari Australia atau Monsoon Australia). Kemudian angin tersebut naik dan membentuk gumpalan – gumpalan awan disekitar Equator yang berakibat awan menjadi jenuh dan turunlah hujan.
3. Hujan Orografis
Hujan yang terjadi karena angin yang mengandung uap air yang bergerak horizontal. Angin tersebut naik menuju pegunungan, suhu udara menjadi dingin sehingga terjadi kondensasi. Terjadilah hujan disekitar pegunungan.
4. Hujan Frontal
Hujan yang terjadi apabila massa udara yang dingin bertemu dengan massa udara yang panas. Tempat pertemuan antara kedua massa itu disebut bidang Front. Karena lebih berat massa udara dingin lebih berada di bawah. Disekitar bidang Front inilah sering terjadi hujan lebat yang disebut Hujan Frontal.

5. Hujan Muson
Hujan yang terjadi karena Angin Musim (Angin Muson). Penyebab terjadinya Angin Muson adalah karena Gerak semu Matahari antara Garis Balik Utara (GBU) dan Garis Balik Selatan(GBS). Di Indonesia secara teoritis hujan muson terjadi bulan Oktober sampai April. Sementara di kawasan Asia Timur terjadi pada bulan Mei sampai Agustus.
Berdasarkan ukuran butiran Air Hujan, dibedakan menjadi :
a. Hujan Gerimis / Drizzle
Diameter butirannya kurang dari 0.5mm.
b. Hujan Salju
Terdiri dari Kristal – Kristal es yang suhunya berada dibawah 0⁰ Celcius.
c. Hujan Es Batu
Curahan batu es yang turun dalam cuaca panas dari awan yang suhunya dibawah 0⁰ Celcius.
d. Hujan deras / rain
Curahan air yang turun dari awan dengan suhu diatas 0⁰ Celcius dengan diameter ±7mm.

HUJAN BUATAN
Hujan buatan merupakan suatu usaha manusia untuk meningkatkan curah hujan yang turun secara alami dengan mengubah proses Fisika yang terjadi di dalam awan. Proses Fisika yang dapat diubah meliputi proses tumbukan dan penggabungan (Collision & Coalescense), proses pembentukan es (ice nucleation). Jadi Jadi sebenarnya hujan buatan tidak menciptakan sesuatu dari yang tidak ada tetapi hanya memodifikasi yang sudah ada. Untuk menerapkan usaha hujan buatan diperlukan tersedianya awan yang mempunyai kandungan yang cukup sehingga dapat terjadi hujan yang sampai ke tanah. Bahan yang dipakai dalam hujan buatan dinamakan bahan semai.
Hujan buatan diterapkan dengan cara melakukan penyemaian awan (Cloud seeding) menggunakan bahan – bahan yang bersifata Hygroskopik (menyerap air) sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan. Perlakuan ini disebut dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), karena pada dasarnya hujan buatan merupakan aplikasi dari suatu teknologi.
Udara selalu mengandung uap air. Apabila uap air ini berkumpul menjadi titik-titik air maka terbentuklah awan. Jika titik-titik air dalam awan semakin besar dan awan semakin berat, gravitasi akan menarik titik-titik air tersebut hingga turun sebagai hujan. Namun jika titik-titik air tersebut bertemu udara panas, titik-titik itu akan menguap sebelum jatuh ketanah dan hilanglah awan tersebut. Hujanpun tidak jadi turun. Inilah yang dihindari dalam pembuatan hujan buatan. Bahan penyemai hujan tidak memberi kesempatan bagi titik-titik air pada awan untuk menguap kembali. Ada sejenis Katalis yang ditambahkan agar awan lebih cepat mengumpul. Zat-zat inilah yang disebut Bahan Semai.
Bahan semai terdiri dari dua jenis yaitu bahan semai Hygroskopis. Bahan yang dapat menarik uap air dari lingkungan sekelilingnya. Bahan semai kedua adalah Bahan semai Glasiogenik. Bahan yang dapat menghasilkan es. Bahan semai Hygroskopis akan membentuk tetes-tetes air yang berperan dalam proses pembentukan butir-butir hujan didalam awan. Awan semakin cepat matang, volumenya akan menjadi lebih besar dan hujan yang dihasilkan akan semakin banyak. Bahan semai Galsiogenik ditebarkan di dalam Atmosfer pada ketinggian diatas Freezing level, dimana lapisan ini mengandung banyak uap air dengan suhu yang sangat dingin (Super Cooled Moisture). Uap air ini dapat membeku secara alami. Penambahan bahan semai Glasiogenik akan mempercepat jumlah air hujan yang turun ke permukaan bumi.
Dan dalam membuat hujan buatan, banyak faktor yang harus dipenuhi. Seperti jumlah awan yang sudah ada, arah angin biar jatuhnya hujan tepat pada lokasi yang sudah direncanakan, suhu udara dan lain sebagainya. Hujan buatan di Indonesia pada umumnya dilakukan dengan menebar NaCl (garam dapur) atau kombinasinya dengan senyawa organic (Urea) yang kemudian akan berperan sebagai inti kondensasi air.
Sejarah modifikasi cuaca didunia diawali pada tahun 1946 ketika Vincent Schaefer dan Irving Langmuir mendapatkan fenomena terbentuknya Kristal es dalam lemari pedingin, saat Schaever secara tidak sengaja melihat hujan yang berasal dari nafasnya sewaktu membuka lemari es tersebut. Kemudian pada tahun 1947, Bernard Vonnegut mendapatkan terjadinya deposit es pada Kristal perak iodide (Agl) yang bertindak sebagai inti es. Vonnnegut tanpa sengaja suatu hari melihat titik air di udara ketika sebuah pesawat terbang dalam rangka reklame Pepsi Cola, membuat tulisan asap nama minuman itu. Kedua penemuan penting tersebut merupakan tonggak dari perkembangan modifikasi cuaca didunia untuk selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: