MESSERSCHMITT BF 109: ONE-OH-NINE DER HITLER

Delapan Juli 1937 adalah kali pertama Bf 109 melukis udara dengan api dan darah. Dalam operasi Brunnet di atas udara Spanyol itu, Letnan Rolf Pingel dan Unteroffizier Guido Honess menembak jatuh dua pembom Tupolev SB-2. Honess sendiri memang terbunuh dalam serangan berikutnya. Tapi ini bukan akhir. Pemburu ringan Satu-Kosong – Sembilan milik Luftwaffe itu terus diproduksi hingga mencapai angka produksi 33.000 unit. Angka kedua terbesar yang hanya dapat dilampaui oleh Il-2 Sthurmovik dari Soviet, yang diproduksi sebanyak 35.000 unit.

Nama Messershcmitt adalah legenda. Utamanya buat Luftwaffe ( AU Nazi Jerman ), Negara Jerman sendiri, bahkan untuk dunia sekalipun. Ibarat pahatan emas namanya tak lekang karena waktu. Kiprahnya di ajang pertempuran udara adalah momok bagi pemburu lain maupun pesawat-pesawat pembom hingga akhir PD II. Di hari-hari pertama The Battle of Brittain ( 1940 ) ia adalah lawan tangguh yang sulit dirontokkan bagi pesawat tempur Hawker Hurricane dan Supermarine Spitfire RAF. Inggris benar-benar kewalahan menghadapinya. Kecepatan terbang Messershcmitt Bf 109 tinggi sekali. Pemburu itu sangat liar dan ulet. Belum lagi hamburan peluru dari dua senapan mesin MG 17 kaliber 7,9 mm dan dua kanon MG FF/M di dua pod sayapnya, sangat deras dan sulit dibendung.

Hurricane memang punya delapan senapan mesin di sayap, jumlah yang lebih besar. Tapi pada saat itu pilot-pilot Luftwaffe telah mengantongi pengalaman di perang saudara Spanyol, invasi ke Polandia dan perang di Perancis. Meski harus pula diakui Luftwaffe, menggempur Inggris bukanlah perkara mudah. Karena serdadu udara Swastika harus menyeberangi selat Inggris yang lebar untuk mencapai lokasi sasaran. Itu pula sebabnya kondisi geografis Britania akhirnya menguntungkan RAF di akhir pertempuran. Pilot-pilot Messerschmitt banyak yang terperangkap saat kehabisan bahan bakar atau terhunus semua pelurunya lalu tercebur di selat sebelum sampai kembali ke Pangkalannya. Lain dengan pilot-pilot RAF yang bisa ‘loncat’ menyelamatkan diri pada saat kritis dan terjun di daratannya.

The man behind the machine, Wilhelm “Willy” Emil Messerschmitt, mungkin tak pernah bermimpi bila kelak di kemudian hari ia akan menjadi orang besar setelah membuat penempur legendaris yang terkenal di seluruh dunia khususnya dalam era PD II. Anak pedagang anggur yang lahir di tanah merah Frankfurt – am – Main pada 26 Juni 1898 itu tumbuh sebagai anak biasa saja layaknya anak-anak pedagang anggur lainnya. Yang membedakannya, karena Emil remaja sudah punya rasa ketertarikan yang tinggi untuk mendalami ilmu tentang pesawat. Hingga tiga tahun setelah kelulusannya dari Munich Institute of Technology dengan mengantongi ijazah Dipl. Ing ( 1923 ), Willy kemudian bergabung dengan Bayerische Flugzeugwerke di Augsburg sebagai kepala desainer merangkap enjinir. Kepiawaiannya dalam merancang pesawat, dibuktikan Willy dua tahun sebelum prosesi wisuda ( kelulusannya dari sekolah ). Ketika ia membuat pesawat tak bermesin, glider.

Pada awal kariernya, Willy memang lebih tertarik pada glider dan pesawat amfibi. Empat belas tahun sebelum merancang pemburu monumentalnya Bf 109, pun ia lebih banyak berkutat dalam perancangan pesawat sipil. Lebih-lebih iklim pada saat itu memang masih terikat panas oleh perjanjian Versailles (Treaty of Versailles) usai PD I pada 1919 yang merestriksi pembangunan pesawat-pesawat perang. Diluar Bayerische Flugzeugwerke, Willy sebenarnya membangun industri sendiri. Namanya Messerschmitt Flugzeugbau. Di perusahaannya ia menjual rancangan-rancangan pesawat sipil empat hingga sepuluh penumpang. Dan atas prakarsa pemerintah akhirnya kedua perusahaan itu dilebur menjadi Bayerische Flugzegwerke Allgemeine Gesselschaft (BFW) bermarkas di Augsburg-Haunsletten. Pesawat sipil rancangan Willy pun diproduksi dengan kode M.18, M.20, M.24 dan M.28.

Hingga musim semi 1934 pun BFW masih mengeluarkan pesawat sipil, Yakni M.37. Prototipe yang kemudian menjadi Bf 108 Taifun (“Typhoon”). Pesawat transpor ringan empat penumpang ini dilombakan dalam international tourist aircraf competition. Rancangan Willy kali ini memang bisa disebut gagal karena tidak banyak dipesan. Tapi banyak orang mengagumi desain cantilever sayap rendah dan roda lipatnya yang impresif.  Dan, semua berubah. Ketika pada tahun yang sama terdengar kabar yang berhembus dari Reichsluftfahrtministerium (RLM Kementrian Udara). Isinya; Adolf Hitler akan segera membangun kesatuan udara Nazi Jerman ( Luftwave )! Dan ia menginginkan sebuah pemburu ringan yang dapat diandalkan sebagai kekuatan utama.

Saat Hitler benar-benar mengumandangkan pembentukan Luftwaffe 1 Maret 1935, perjanjian Versailes perlahan mulai luntur. Terlebih ketika ia berpidato lagi di hari keenambelas pada bulan yang sama: “Jerman harus dipersenjatai!” ungkapnya. Seketika industri militer pun tumbuh lagi, menggulingkan pengembangan pesawat sipil yang sudah mulai menemukan platform-nya. Bahkan dapat dikatakan kebangkitan Jerman dalam dalam menelorkan pesawat perang pada era ini adalah yang tercepat dan tersubur dibanding Negara – negara lain.Banyak perusahaan Penerbangan Jerman yang bermunculan, seperti Messershcmitt, Junkres, Arado, Heinkel, dan Focke – Wulf.

Ketika nominasi industri pesawat yang boleh ikut berkompetisi untuk membuat pesawat yang diinginkan Hitler akan diputuskan, hampir saja BFW tidak disertakan oleh kementerian udara. Seorang pejabat di kementerian, Erhard Milch, yang memendam sentimen pribadi kepada Willy menilai BFW tidak bakal becus membuat penempur. Tapi Herman Goering yang memegang jabatan tertinggi sebagai menteri udara mengirim surat khusus kepada Willy untuk segera menyiapkan rancangannya dan ikut berlomba. Hasilnya luar biasa. Musim gugur 1936, Bf 109 rancangan Willy dinyatakan menang menyisihkan Heinkel He 112, Arado Ar 80, dan Focke-Wulf dengan Fw 159. Dan Willy membuat Bf 109 dari desain pesawat Bf 108 yang kurang dilirik pembeli itu ( Internasional Tourist Aircraft Competitif ).

MESSERSCHMITT BF 109 E-7BNamun, belum lagi Bf 109 menghela nafas setelah masuk jajaran luftwaffe, Juli 1936 Spanyol dilanda perang saudara. Kubu AD sayap kanan ( Nasionalis Konservatif ) pimpinan Jenderal Francisco Franco Y Bahamonde melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Republik yang dianggap korup dan tidak efektif. Jerman menyokong Bahamonde yang sangat minim mesin perang udaranya untuk melumat pemburu Nieport – Delage NiD. 52 yang sudah ketinggalan zaman milik pemerintahan Republik. Namun tanpa diduga kubu sayap kiri Republik juga dilindungi Soviet. Terciptalah ajang pertempuran pesawat – pesawat tempur Jerman dengan pesawat – pesawat tempur Soviet, Polikarpov I-15 yang bersayap ganda, I-16 yang lebih setaraf dengan Bf 109 hingga pembom SB2.

Messershcmitt Bf 109 tipe awal V4 yang diturunkan Hitler, memang sedikit kedodoran menghadapi pilot-pilot Polikarpov. Tapi untunglah varian kedua Bf-109B-1 “Bertha” sudah rampung. Bertha ikut merangsek. Pertempuran jadi makin sengit. I-16 memang lawan paling seimbang bagi Messershcmitt Bf 109B. Dua-duanya punya keunggulan. Meski Bf 109 kalah dalam hal manuverabilitas dan kecepatan menanjak, Tapi I-16 tak berdaya ketika harus bertempur di atas ketinggian 3.000 meter. Kecepatan level flight dan kemampuan menukik Bf 109 jauh lebih hebat. Tidak salah bila Bf 109 mampu melumat Polikarpov dari atas atau membokongnya dari belakang secara tiba-tiba.

Hanya, pasukan Nazi Jerman pun bukan tanpa korban. Pilot Unteroffizier Guido Honess adalah tumbal pertama pilot Luftwaffe di medan perang. Tapi sebelum dijemput ajal, dalam operasi Brunnet ini Honess bersama Letnan Rolf Pingel berhasil menjatuhkan dua pesawat pembom SB-2 Soviet di kubu Republik. Mereka adalah pelukis udara pertama bagi pilot Luftwaffe. Honess menambahnya dengan menembak dua Aero A-101 serta tiga Polikarpov I-16 oleh Pingel, Feldwebel Adolf Buhl dan Feldwebel Petter Boddem. Pihak Republik memang mengklaim bahwa satu SB-2 bukan dijatuhkan “Bertha” melainkan oleh pesawat Fiat C.R.32 dari fasis Italia yang juga bergabung di kubu Nasionalis.

Dalam penyerangan kedua di The Battle of Ebro antara bulan Juli hingga Oktober 1938, Komandan Jagdgruppe ( grup tempur ) 3 Staffel 3.J / 88 Oberleutnant, Werner Molders mengangkat Pesawat tempur Bf 109 dalam pola serang baru dengan nama Vierfingerschwarm atau formasi empat jari. Konsep penggabungan dua rotte dengan dua elemen dasar dalam satu Staffel. Formasi yang bisa berubah secara mendadak menjadi berbagai penyerangan yang tak terduga musuh.

Tak salah bila Molder pribadi menjadi Ace di Condor Legion setelah meraih empat belas kemenangan. Dia pula lah yang menjadi pilot tempur pertama yang meraih angka 100 “kill”. Ibarat dahaga yang tak pernah luruh, Pesawat tempur Bf 109 terus terlibat dalam perambahan perang udara. Semua medan perang di belahan Eropa disapunya dengan ganas. Hitler makin menjadi-jadi. Invasi terus dilakukannya; ke Belgia, Polandia, Denmark, Norwegia, Inggris, Belanda hingga invasi terakhir ke negara beruang merah ( Uni Soviet ) menjelang akhir PD II dalam operasi Barbarosa.

Saat pulang dari ajang laga The Battle of Ebro tahun 1938, versi “Emil” Me-109E mulai diproduksi. Melanjutkan pengembangan versi prototipe, “Bertha”, “Clara” dan “Dora”. Disinilah mulai terlihat perbedaan pemakaian prefiks Bf dan Me untuk Satu-kosong-Sembilan. Bahkan dalam beberapa dekade pada era tersebut para historian masih sempat beradu argumen tentang hal ini. Karena sejak versi “Emil” dan seterusnya penulisan Satu-Kosong-Sembilang kadang menggunakan prefiks Me atau Bf.

Entah karena “apa” pula, sejak tahun 1938 Willy memang lebih senang memberi kode Me untuk pesawat 109 rancangannya. Tapi yang jelas seiring waktu itu Willy memang memegang puncak pimpinan tertinggi di BFW dan kemudian hari mengakuisisinya menjadi Messerschmitt.

Dan bukan karena kebetulan bila versi “Emil” menjadi varian yang paling kesohor dari 33.000 Bf(Me) 109 yang berhasil diproduksi termasuk yang diproduksi di luar Jerman. Padahal setelah “Emil” masih banyak varian lain. mulai dari “Franz”, “Gustav”, “Toni” hingga “Zwilling” untuk Me-109Z. “Toni” adalah sebutan untuk versi angkatan laut Me-109T (Tragger kapal induk) yang dibuat dengan konfigurasi sayap lebih lebar dan dilengkapi arrester hook. Pemburu ini ditempatkan pada geladak Graf Zeppelin.

Kisah pesawat pemburu One-Oh-Nine memang tak cukup diceritakan dalam uraian singkat. Bagaimana pula ceritanya hingga ia bisa melahirkan Kanone (istilah untuk Ace di Jerman) terbesar sepanjang sejarah, Erich Hartmann yang mampu menggasak 352 lawan di udara dengan pemburu ini. Kemengangan pertamanya ketika ia menembak jatuh pemburu Soviet Il-2 Sthurmovik. Pemburu terbanyak yang pernah dibuat, melampaui angka 33.000 Bf 109 (lihat Angkasa No. 10, Juli 1992).

Namun yang jelas, ada satu pertanyaan yang hingga kini masih “tersisa” dan sering diperdebatkan sebagian orang perihal penempur “terhebat” pada era PD II. Demikian pula yang diuraikan Jon Guttman dalam Aviation History edisi Mei 1999. Performakah? Keunggulan atau rekor tempur? Jangan lupa bahwa di ajang perang terbesar lebih setengah abad silam itu banyak lahir penempur yang sering disebut orang dalam katagori “The Greatest”. Dialah North American P-51 Mustang, Mitsubishi A6M Zero, Hawker Hurricane, Supermarine Spitfire, Lockheed P-38 Lightning, Yakovlev Yak-3 dan Grumman F-6F Hellcat, Lavochkin La-5FN atau Lavochkin-Gorbunov-Gudkov LaGG-3. Komentar berikut bersifat mendukung saja. Satu dari sekian ribu apresiasi untuknya. “Messerschmitt One-Oh-Nine adalah The Killing Machine,” ujar Ace of Aces Finlandia, Eino Ilmari Juutilainen.109e33041hb

MESSERSCHMITT  BF  109  ONE – OH – NINE  DER  HITLER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: